Ada dua alasan penting mengapa kita harus mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Pertama, Tuhan tidak puas menempati tempat kedua. Dia adalah pencipta seluruh alam semesta beserta isinya termasuk kita semua. Kehadiran kita didunia ini dengan segala keberadaannya bukanlah merupakan suatu kebetulan, semua itu ada didalam rencanaNya yang sempurna. Oleh karena itu, selayaknyalah kita menomor-satukan pencipta kita dalam segala hal termasuk didalam pekerjaan karena Dialah yang memiliki segalanya dan Dialah paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita semua.

Alasan kedua, Tuhan akan senang apabila kita mengutamakan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita sebagaimana seorang bapa yang senang apabila anak-anaknya mengutamakan dan mematuhi segala nasihat dia.

Jika Tuhan tidak diutamakan dalam hidup dan bisnis kita maka kita harus bergantung pada sumber daya kita sendiri untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis. Namun bila Tuhan didahulukan dalam bisnis kita maka Dia akan menjadi sumber utama yang mendatangkan sukses. Bayangkanlah! Bila Tuhan diutamakan dalam hidup dan bisnis kita maka kita akan ditunjang oleh kekuasaanNya yang tiada terbatas. Kita tidak dapat menemukan penunjang yang lebih baik dalam bisnis kita selain daripada Tuhan.

Ada seorang profesional muda yang melamar pekerjaan pada sebuah bank. General Manager bank tsb sangat terkesan oleh isi CV dan hasil wawancara si profesional muda itu. Tetapi sebelum memutuskan untuk mempekerjakan dia, profesional muda tsb diundang untuk makan siang disebuah restoran cepat saji bersama dengan beberapa eksekutif bank lainnya. Pada saat mengantri, secara diam-diam dia mengambil satu kotak keju lebih dari yang seharusnya dan diselipkan dibawah pinggiran piring agar tidak terlihat oleh kasir. Kejadian itu diamati oleh si General Manager yang berdiri dibelakangnya dan seraya berpikir “apabila dengan sebuah kotak keju saja dia tidak dapat dipercaya, bagaimana dia dapat dipercaya dengan uang yang ada didalam bank.”

Berdusta sudah menjadi kebiasaan umum. Kadang-kadang dilakukan untuk apa yang barangkali nampaknya sebagai alasan terbaik, sering untuk keuntungan pribadi dan hampir secara rutin untuk memudahkan usaha-usaha yang berkaitan dengan bisnis.

Kejujuran seharusnya meliputi seluruh aspek hidup kita, bukan hanya didalam bisnis tetapi juga dimanapun kita berada, bukan hanya untuk hal-hal yang besar tetapi juga hal-hal yang kecil, guna menghasilkan hidup yang patut dipuji dan dihormati. Kejujuran akan mendapatkan imbalannya dan Tuhan tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang berlaku jujur dalam hidupnya

Dalam menentukan etika seperti apa yang harus kita terapkan dalam berbisnis, kita dihadapi oleh dua pilihan. Pertama, dinamakan Etika Situasi, dimana kita dapat mengembangkan standar etika yang fleksibel dan dapat berubah-ubah tergantung situasi yang dihadapi. Atau kita dapat memilih untuk menentukan seperangkat etika bisnis yang tetap, tidak berubah-ubah dan tidak terpengaruh oleh situasi.

Dalam dunia bisnis saat ini, semakin banyak orang yang cenderung memilih mengikuti pilihan pertama. Apabila situasi tidak memungkinkan untuk berlaku jujur, maka mereka berdusta. Apabila situasi memaksa mereka untuk membuat laporan fiktif, maka itulah yang dilakukan. Etika situasi ini dapat mengarahkan kita untuk memiliki cara berfikir yang menyesatkan seperti:

  • Kita dapat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
  • Apabila semua setuju, maka yang kita lakukan adalah benar.
  • Apabila yang lain melakukannya, berarti saya juga boleh.

Tetapi etika yang seharusnya kita pilih adalah etika yang mutlak berdasarkan nilai-nilai moral agama yang tidak berubah apapun situasinya walaupun itu berarti kita harus mengorbankan peluang-peluang bisnis yang menggiurkan. Etika yang seperti ini dapat disimpulkan dalam sebuah kalimat yang berbunyi "Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Masalah umum yang dihadapi setiap manusia adalah mengutamakan kepentingan pribadi. Dalam memutuskan sesuatu atau dalam menjalin suatu hubungan, baik kita sadari maupun tidak, kita cenderung memikirkan diri kita terlebih dahulu dibanding kepentingan orang lain, misalnya kita menggunakan bahan baku kosmetika yang terlarang tanpa memikirkan efek sampingnya karena produk tsb memberikan laba yang besar; kita segan untuk menolong rekan kerja karena kuatir dia yang mendapatkan pujian; kita bersikap buruk dan tidak ramah karena seorang konsumen tidak jadi membeli produk yang kita tawarkan; kita malas untuk meluangkan sedikit waktu untuk membantu seseorang apabila tidak ada untungnya bagi kita, dan seterusnya. Apabila kita tidak berhati-hati dan terus membiarkan sikap egois tsb bertumbuh, maka kita akan menjadi manusia yang tidak dapat diandalkan dan memiliki mentalitas "selama hal tsb tidak merugikan saya dan keluarga saya, mengapa saya harus peduli?"

Padahal Tuhan menciptakan manusia bukan untuk memuliakan dirinya sendiri melainkan untuk memuliakan sang penciptanya. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan dan keputusan-keputusan yang kita ambil harus mencerminkan kemuliaan Tuhan. Jadi mentalitas yang seharusnya kita kembangkan adalah mentalitas "lakukanlah kepada orang lain seperti apa yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda."

Seringkali kita menemukan kejadian dimana seorang anak dilahirkan dengan kemampuan yang jauh melebihi kemampuan anak-anak pada umumnya atau yang lazimnya disebut sebagai anak genius. Biasanya mereka memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan dalam suatu bidang tertentu dibanding dengan teman-teman sebaya atau bahkan dengan anak-anak yang jauh lebih tua. Mereka mungkin genius dalam hal matematika, kesenian, atau bahasa, tetapi kalau kita amati lebih jauh tidak pernah ada seorang anakpun yang dilahirkan genius dalam hal kebijaksanaan dan kedewasaan sikap, mental dan spiritual. Tidak ada kelas atau kursus kilat yang dapat memberikan kita hal tersebut karena untuk memperoleh kebijaksanaan dan kedewasaan dalam sikap, mental dan spiritual dibutuhkan waktu dan proses panjang yang melibatkan kegagalan, keberhasilan, cucuran air mata, pergumulan, dll. Dan tidak ada seorangpun yang pernah lulus karena proses menuju kesempurnaan dalam hal tersebut adalah merupakan proses pembentukan dan pembelajaran seumur hidup.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengembangkan kebiasaan melakukan evaluasi diri secara berkala, tetap terbuka terhadap masukan dan teguran, saling mengingatkan, saling mengasah dan saling membangun. Ingat, hal-hal besar tidak terjadi secara mendadak melainkan oleh serangkaian hal kecil.